A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /home/smkn1p09/public_html/websmk/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /home/smkn1p09/public_html/websmk/index.php
Line: 315
Function: require_once

Penerapan Model soal HOTS UN Perlu Diimbangi Peningkatan Kemampuan Guru dan Siswa | SMKN 1 PANDEGLANG - BANTEN

SMKN 1 PANDEGLANG - BANTEN

Jl. Raya Labuan Km. 05 Kadulisung,Kaduhejo, Pandeglang 42253

SMK Bisa SMK Hebat

Penerapan Model soal HOTS UN Perlu Diimbangi Peningkatan Kemampuan Guru dan Siswa

Minggu, 22 April 2018 ~ Oleh Rusman Hendro Susanto ~ Dilihat 93 Kali

Ujian Nasional (UN) untuk jenjang SMK dan SMA/MA tahun pelajaran 2017/2018 telah dilaksanakan pada tanggal 2-5 April dan 9-12 April 2018. Secara umum, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk jenjang SMK dan SMA/MA  relatif lebih lancar dan tertib dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah pengaduan yang masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga lebih sedikit. Namun masih ada beberapa kendala teknis, seperti keterbatasan pasokan listrik dan jaringan internet yang pada akhirnya dapat diatasi. Penerapan soal model Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada mata pelajaran matematika SMA/MA yang dirasakan terlalu sulit, mendapat banyak respon dari peserta ujian dan menjadi viral di media sosial. Kebijakan penerapan soal model HOTS dimaksudkan untuk melatih anak-anak berpikir kritis, kreatif, dan analisits, namun ada prinsip-prinsip HOTS yang belum sepenuhnya diterapkan dalam menyusun soal ujian.  Oleh karena itu penerapan soal model HOTS dalam UN perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. 

Demikian catatan penting dari rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan UNBK pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada hari Jumat, 20 April 2018 di Jakarta. Rapat koordinasi ini dipimpin oleh Wijaya Kusumawardhana  Asisten Deputi Pendidikan Mengenah dan Keterampilan Bekerja. Turut hadir dalam acara ini Bambang Suryadi Ketua Badan Standar Nasional Penddidikan (BSNP), Awaludidn Tjalla Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, wakil dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Direktorat Pembinaan SMA,  SMK, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), dan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tujuan evaluasi pelaksanaan UNBK ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang terjadi selama pelaksanaan UNBK dan untuk merespon banyaknya tanggapan masyarakat terhadap pelaksanaan UNBK tersebut, sehingga kita bisa melakukan perbaikan pada pelaksanaan UN di masa depan”, ucap Wijaya  Kusumawardhana mengawali sambutannya.

Secara umum, tambah Wijaya, pelaksanaan UNBK tahun ini berjalan lebih lancar dan tertib, , dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahwa masih  ada kendala teknis seperti pemadaman listrik, keterlambatan  pengunduhan token, keterbatasan infrastruktur dan jaringan internet, serta  server yang tiba-tiba tidak berfungsi, tidak bisa dinafikan. Tapi, alhamdulillah, akhirnya masalah tersebut dapat diatasi. Untuk perbaikan pelaksanaan UNBK ke depan, kita perlu mengidentifikasi  masalah dan keluhan masyarakat atas pelaksanaan UNBK 2018.

“Selain permasalahan teknis tersebut, isu yang yang mendapat sorotan masyarakat adalah soal Matematika jenjang SMA/MA yang dirasakan terlalu sulit, sehingga banyak beredar keluhan di media sosial. Demikian juga adanya keluhan soal UN yang  tidak sesuai dengan kisi-kisi dan soal  uji coba atau try out”, ucap Wijaya sambil menambahkan perlunya penjelasan tentang hal ini kepada masyarakat. 

Sementara itu, Bambang Suryadi Ketua BSNP dalam paparannya mengatakan bahwa telah menjadi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  untuk menerapkan soal yang mendorong peserta didik untuk melakukan penalaran, tidak hanya sekedar pemahaman dan penerapan.

“Asesmen nasional diarahkan kepada model asesmen yang menuntut kemampuan berpikir yang tidak hanya mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Inilah yang disebut dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher oder thinking skills (HOTS)”, ucap Bambang seraya menambahkan ada beberapa prinsip HOTS yang belum diterapkan sepenuhnya  dalam penyusunan soal UN.

Lebih  lanjut Bambang mengatakan prinsip kontekstual dengan kehidupan nyata belum diterapkan sepenuhnya dalam penyusunan soal Matematika. Misalnya, soal terkait dengan jumlah garam NaCl yang ada dalam 1 ton bola salju. Demikian juga tentang soal daduyang diputar 600 kali atau  waktu yang diperlukan oleh paku untuk tenggelam dalam agar-agar.

“Soal-soa tersebut jelas di luar konteks. Negara kita merupakan negara tropis, tidak pernah ada salju. Demikian juga, apa manfaat dari memutar dadu  sampai 600 kali”,ucap Bambang.  

Tujuan soal  model HOTS dalam asesmen, tambah Ketua BSNP,  adalah untuk mendorong siswa melakukan penalaran tingkat tinggi sehingga tidak terpaku pada satu pola jawabanyagn dihasilkan dari proses hapalan, tanpa mengetahui konsep keilmuan.  HOTS merupakan salah satu tuntutan keterampilan  dalam pembelajaran abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

“Anak-anak kita tidak akan berdaya saing jika di sekolah tidak dilatih kecakapan hidup abad 21. Asesmen modal HOTS juga dilakukan untuk mengejar keterbelakangan bangsa Indonesia di tingkat internasinal, khususnya yang terkait dengan hasil Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan tiga tahun sekali”, ucap Ketua BSNP yang tidak menafikan kenyataan bahwa kemampuan guru-guru dalam menyusun soal model HOTS masih perlu  dintingkatkan.

BSNP telah berkoordinasi dengan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa untuk mendorong berkembangnya soal model HOTS ini, penskoran soal dilakukan dengan mempertimbangkan kompleksitas soal. Soal yang lebih kompleks diberi bobot yang lebih tinggi. Dengan demikian akan  ada faktor pembeda antara siswa yang mampu menjawab soal model HOTS dan siswa yang hanya mampu menjawab soal yang mudah atau sedang.

Awaluddin Tjalla Kepala Puskurbuk menyampaikan perlunya dilakukan penyelarasan antara proses pembelajaran dan penilaian dengan mengacu kepada standar nasional pendidikan. Semangat yang ada di dalam Kuriulum 2013 adalah untuk meningkatkan daya nalar siswa, termasuk berpikir kritis dan analitis.

“BSNP yang mengembangkan standar, Puskurbuk yang bertanggungjawab terhadap implementasi kurikulum, dan Puspendik yang bertanggungjawab terhadap penilaian pendidikan, perlu duduk bersama untuk membahas permasalahan pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional”, ucap Kepala Puskurbuk seraya menambahkan salah satu hikmah  yang dapat kita ambil  dari pelaksanaan UN tahun 2018 adalah perlunya  refleksi dan evaluasi internal dari beberapa fenomena yang muncul dalam pelaksanaan ujian.   (BS)

Diambil dari : http://bsnp-indonesia.org/2018/04/21/penerapan-soal-model-hots-dalam-ujian-nasional-perlu-diimbangi-dengan-peningkatan-kemampuan-guru-dan-siswa/

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT